≡ Menu

Duh Malunya Jadi Follower

Tanggal 1  s.d 3 May, 2015 kemarin saya pergi jalan-jalan berwisata sambil refreshing sejenak ke Pulau Tidung bersama travelnya Pak Munawar. FYI traveling kemarin itu merupakan traveling ke 5 saya ke Pulau Tidung bersama keluarga. Perjalanan kesana lumayan capek dari dermaga pelelangan ikan Muara Angke ke Pulau Tidung menumpang kapal ferry yang jalannya kayak keong :D. 3 jam perjalanan akhirnya sampai dilokasi.

Ada yang menarik di Pulau Tidung dan tentunya yang berhubungan dengan internet marketing. Terjadi pembicaraan hangat (ngobrol2 ditepian pantai) antara saya bersama sejumlah biro travel yang memberikan pelayanan jasa tour guide di Pulau Tidung (munawarpulautidung.com, pulautidungbodas.com, Hiqman Tidung Tour dan pulautidungaffan.com). Isi obrolan tentu saja ngalor ngidul dari A ke Z terus ke A lagi sampai ke Z lagi.

Didalam salah satu isi pembicaraan yang tidak serius itu (sambil bersenda gurau) kami banyak membahas salah satu biro travel di Pulau Tidung juga yang intinya melabelkan si biro travel tersebut sebagai follower.

“Follower”

Follower bisa diartikan sebagai pengikut, maknanya bisa positif dan bisa pula negatif. Saya beranggapan jelas tidak salah menjadi follower sepanjang untuk hal-hal tertentu dan pada batas-batas tertentu pula tapi kalau terus menerus menjadi follower untuk segala hal jelas saya tidak sependapat karena saya masih punya muka (baca=malu).

Follower selalu mengikuti orang tanpa mampu mengkreasikan hal-hal baru yang lebih baik atau lebih menguntungkan. Bahkan diantara follower itu ada yang sangat sadis sekali yakni menjadi follower dengan mengcopy semua ide dari competitor termasuk isi/material kemudian dipublikasikannya lagi.

Pak Munawar yang juga menjadi partner JBS Group tahu detail siapa saja follower didunia pemasaran jasa travel di Pulau Tidung sebab kami sering berdiskusi sebelum meluncurkan sebuah ide baru. Bahkan tidak jarang kami berdua memperhatikan siapa saja yang menjadi follower ketika kami baru saja meluncurkan sebuah gagasan baru.

Contoh Follower:

Saya selalu ingin yang unik dan berusaha keras untuk membuat hal yang unik. Karena unik bagi saya adalah walaupun kita memiliki kesamaan pada konsep tetapi berbeda didalam cara menawarkan, cara menulis, cara membuat web, cara berpromosi dan seterusnya.

Saat belum ada situs travel di Pulau Tidung yang menggunakan tagline “Agent”, “Biro Travel”, “Promo” ataupun “book now and get xxx discount”, “book now and get xxx off before xxx” atau contoh terkini kami menggunakan tagline “backpacker” selang beberapa minggu kemudian si follower ini ikut-ikutan pakai tagline tersebut.

followerSaat kami mengganti tampilan themes dengan menonjolkan fitur penawaran didalam web, si follower ini pun ikut-ikutan pula dan jelas ini adalah perbuatan follower yang tidak punya daya kreativitas alias bad internet marketer.

Comments on this entry are closed.